Dimulai dari lulus kuliah, pertanyaan yang sering muncul adalah, "Udah kerja belum?", "Kerja dimana?". Kalau sudah mendapatkan pekerjaan mungkin pertanyaan ini terasa sangat ringan. Tapi kalau belum dapet kerja, kadang pertanyaan ini bikin gregetan. Untukku, pertanyaan ini memang pernah membuatku sedikit ga nyaman, soalnya untuk mendapatkan pekerjaan yang sekarang ini, aku sempet ngalamin 'nganggur' selama 7 bulan. Sampai akhirnya, Alhamdulillah Allah memberikan pekerjaan yang kuiinginkan dengan lingkungan kerja yang baik juga.
Setelah bekerja, pertanyaan yang sering didapat adalah, "Udah nikah belum?", atau "Kapan nikah?". Pertanyaan ini terasa lebih ringan bagiku di bandingkan dengan pertanyaan " Udah kerja belum?". Biasanya kalau ada pertanyaan "Kapan nikah ?", cukup kujawab dengan jawaban "Liat aja nanti...." atau "Ada deh, mau tauuuuu aja...". Coba klo lagu Single Happy-nya Oppie udah ada dari sejak aku masih single, pasti aku akan lebih menyukai lagu itu di bandingkan sekarang.
Setelah nikah, eh pertanyaannya ganti lagi, "Udah isi belum...?". Pertanyaan ini juga dengan senangnya kujawab dengan makanan kesukaanku seperti batagor, ridoles, mie bakso, kupat tahu, baso tahu, mie kocok, pecel lele, cireng kacang, sop buah, tutut, xixixi upppss kebanyakan, gini nih klo berurusan dengan tukang makan.
Salut banget buat pasangan yang kesabarannya teruji dengan lamanya menunggu kehadiran seorang anak. Paman bibiku mendapatkan seorang putri setelah 8 tahun menikah, salah seorang teman kerjaku telah menunggu 9 tahun dan paman bibiku yg lain, telah lebih dari 15 tahun menikah belum di karuniai anak sampai sekarang.
Dalam masyarakat umum memang telah terbentuk frame ideal -Jika sudah lulus sekolah berarti harus punya pekerjaan yang mapan, jika sudah bekerja berarti harus menikah, jika sudah menikah berarti harus segera memiliki anak-. Segala sesuatunya terjadi atas kuasa-Nya, dan setiap orang punya kisahnya sendiri dalam menjalani hidup. Semoga aku bisa menunaikan semua tugasku dengan baik, Alhamdulillah Allah sangat sayang padaku.
Setelah bekerja, pertanyaan yang sering didapat adalah, "Udah nikah belum?", atau "Kapan nikah?". Pertanyaan ini terasa lebih ringan bagiku di bandingkan dengan pertanyaan " Udah kerja belum?". Biasanya kalau ada pertanyaan "Kapan nikah ?", cukup kujawab dengan jawaban "Liat aja nanti...." atau "Ada deh, mau tauuuuu aja...". Coba klo lagu Single Happy-nya Oppie udah ada dari sejak aku masih single, pasti aku akan lebih menyukai lagu itu di bandingkan sekarang.
Setelah nikah, eh pertanyaannya ganti lagi, "Udah isi belum...?". Pertanyaan ini juga dengan senangnya kujawab dengan makanan kesukaanku seperti batagor, ridoles, mie bakso, kupat tahu, baso tahu, mie kocok, pecel lele, cireng kacang, sop buah, tutut, xixixi upppss kebanyakan, gini nih klo berurusan dengan tukang makan.
Salut banget buat pasangan yang kesabarannya teruji dengan lamanya menunggu kehadiran seorang anak. Paman bibiku mendapatkan seorang putri setelah 8 tahun menikah, salah seorang teman kerjaku telah menunggu 9 tahun dan paman bibiku yg lain, telah lebih dari 15 tahun menikah belum di karuniai anak sampai sekarang.
Dalam masyarakat umum memang telah terbentuk frame ideal -Jika sudah lulus sekolah berarti harus punya pekerjaan yang mapan, jika sudah bekerja berarti harus menikah, jika sudah menikah berarti harus segera memiliki anak-. Segala sesuatunya terjadi atas kuasa-Nya, dan setiap orang punya kisahnya sendiri dalam menjalani hidup. Semoga aku bisa menunaikan semua tugasku dengan baik, Alhamdulillah Allah sangat sayang padaku.
